CD siap buang

0

Suka beri baju/celana bekas yang masih layak pakai ke orang? Amal, itu. Tapi tak lazim mewariskan ‘daleman’, bukan? Daripada langsung masuk sampah, benda ini bisa kita manfaatkan 1x lagi. Trik ini sangat cocok untuk mahasiswa (di mana irit adalah ‘sakral’) yang ngontrak/punya dapur sendiri.

Misalnya singlet atau CD (celana dalam)—terutama yang bahannya berdaya serap tinggi. Setelah pencucian terakhir (tidak habis pakai), gunakan saja untuk mengelap minyak atau jelaga yang biasa nempel di dinding [keramik] dapur dekat kompor (penggorengan). Lalu baru masuk sampah (kali ini tidak perlu cuci). Percayalah, cara ini jauh lebih efektif daripada menggunakan koran bekas, dan dari segi efisiensi juga lebih cerdas daripada memakai gombal yang setelah itu harus kita cuci kembali.

Agak ekstrim? Heh..heh.. Paman jago tutup mulut kok, biar ini jadi rahasia kita saja, ok? Orang toh tak perlu tahu kalau dinding dapur kita nan bersih dan kesat itu hasil usapan pakaian dalam. Ssst..! 😎

ooOoo

–NgM–mangap

Advertisements

Parkir mobil di rumah

0

Saat memarkir mobil di rumah (baik di garasi ataupun carport), banyak orang suka posisi menghadap ke jalan. Selain agar rumah/mobil lebih sedap dipandang (dari arah depan), alasan utamanya biasanya: agar esok pagi saat berangkat kerja jadi mudah alias tinggal ‘hreng..’ tanpa harus repot atret lagi. Tapi sebenarnya posisi ini ada ruginya: saat esok paginya memanaskan mobil (meski cuma barang semenit) asap knalpot (yang mengandung karbon monoksida dll itu) akan menyerbu masuk ke dalam rumah dan tinggal relatif lama di sana (dan sekian persennya bahkan akan menempel di tembok).

Kalau posisi sebaliknya? Total ‘asapnya’ tentu akan sama saja, tapi paling tidak emisi gas buangnya yang beracun itu tidak terperangkap di dalam rumah dan jadi menu harian anggota keluarga.

ooOoo

–NgM–mangap

Utang kerjaan rumah

0

Ini terutama buat mereka yang hidup tanpa pembantu, baik rumah sendiri atau kost, lajang atau sudah berkeluarga. Suka bepergian? Jangan biasain ninggal utang kerjaan rumah! Entah itu piring/baju kotor, genting bocor dlsb. Kalau cuma dikit kaya satu-dua potong pakaian yang dipakai terakhir wajar, tapi jangan numpuk. Kenapa? Ada sekian alasan, tapi yang paling penting ini: biar menjelang balik dari luar kota nanti kita tidak dibayangi seabrek kerjaan yang siap menyambut di rumah. Kalau jadi kebiasaan, alih-alih jadi sumber semangat bisa-bisa rumah jadi terasa seperti pusat beban. Bahaya! Kita bisa kesal sama rumah sendiri. Dan kalau sama rumah ndiri aja ‘nggak akur’—nggak tentram, mau tidur di mana?

Tapi jangan juga ngeborong nyapu, nyuci, ngepel dll menjelang berangkat, entar pergi aja belum fisik-mental udah capek. Jadi ya atur-atur sajalah. Bukan cuma kantor yang butuh manajemen. Rumah juga.

ooOoo

–NgM–mangap