Telur – besar atau kecil?

6

Dulu waktu Paman Hantu masih bocah dan tinggal di Salatiga (sebuah kota kecil di lereng gunung Merbabu), keluarga kami punya jadwal tetap soal telur [ayam negeri]: saat lebaran untuk bikin kue, dan setiap Minggu pagi saat ibu membuat nasi goreng yang demikian ditunggu-tunggu (sebutir telur didadar dan diiris kecil-kecil untuk enam orang—sungguh, dadar buatan ibu yang terlezat di dunia). Jelas, telur yang terlalu kecil bisa mengacaukan resep (kue) atau membuat sedih para anak (dadar).

Tapi saat kemudian tinggal di kontrakan dan telur hanya untuk dimakan sendiri (khas orang rantau atau ala mahasiswa), Paman justru melakukan yang sebaliknya: kalau beli telur selalu pilih yang kecil. Bukan apa-apa, jika telur ukuran standar/besar, setengah kilo paling hanya akan dapat delapan butir (kadang bahkan cuma tujuh). Jika ukuran keci? Bisa sembilan kali ceplok atau rebus bareng mie instan.

ooOoo

–NgM–mangap

Rebus telor 1 detik

2

Semua orang tahu trik hemat telor kita masukkan ke dalam tanakan nasi (dandang atau rice cooker). Numpang mateng. Tapi merebus telor (pakai air) dalam sedetik? Apa mungkin? Dan jawabnya adalah: “Sangat mungkin, saudara-saudara!” Syaratnya ada: nggak lagi kesusu. Lho!? Begini: Masukkan telor ke dalam panci (tempat cekung) sejak air dingin (harus terendam penuh), nyalakan kompor, dan begitu air mendidih matikan kompor dan tutup panci rapat-rapat. Dengan kata lain air cuma sempat mendidih selama kira-kira satu detik he..he..

Jadi besok ingin keluarga sarapan telor rebus tapi khawatir tak cukup waktu sekaligus ingin irit BBM? Gampang, praktekkan saja trik rahasia Paman Hantu di atas pada malam harinya.

ooOoo

–NgM–mangap

Utang kerjaan rumah

0

Ini terutama buat mereka yang hidup tanpa pembantu, baik rumah sendiri atau kost, lajang atau sudah berkeluarga. Suka bepergian? Jangan biasain ninggal utang kerjaan rumah! Entah itu piring/baju kotor, genting bocor dlsb. Kalau cuma dikit kaya satu-dua potong pakaian yang dipakai terakhir wajar, tapi jangan numpuk. Kenapa? Ada sekian alasan, tapi yang paling penting ini: biar menjelang balik dari luar kota nanti kita tidak dibayangi seabrek kerjaan yang siap menyambut di rumah. Kalau jadi kebiasaan, alih-alih jadi sumber semangat bisa-bisa rumah jadi terasa seperti pusat beban. Bahaya! Kita bisa kesal sama rumah sendiri. Dan kalau sama rumah ndiri aja ‘nggak akur’—nggak tentram, mau tidur di mana?

Tapi jangan juga ngeborong nyapu, nyuci, ngepel dll menjelang berangkat, entar pergi aja belum fisik-mental udah capek. Jadi ya atur-atur sajalah. Bukan cuma kantor yang butuh manajemen. Rumah juga.

ooOoo

–NgM–mangap