Parkir mobil di rumah

0

Saat memarkir mobil di rumah (baik di garasi ataupun carport), banyak orang suka posisi menghadap ke jalan. Selain agar rumah/mobil lebih sedap dipandang (dari arah depan), alasan utamanya biasanya: agar esok pagi saat berangkat kerja jadi mudah alias tinggal ‘hreng..’ tanpa harus repot atret lagi. Tapi sebenarnya posisi ini ada ruginya: saat esok paginya memanaskan mobil (meski cuma barang semenit) asap knalpot (yang mengandung karbon monoksida dll itu) akan menyerbu masuk ke dalam rumah dan tinggal relatif lama di sana (dan sekian persennya bahkan akan menempel di tembok).

Kalau posisi sebaliknya? Total ‘asapnya’ tentu akan sama saja, tapi paling tidak emisi gas buangnya yang beracun itu tidak terperangkap di dalam rumah dan jadi menu harian anggota keluarga.

ooOoo

–NgM–mangap

Kemoceng mobil

0

Sepertinya banyak pemilik mobil yang tidak begitu menganggap penting benda yang satu ini. Padahal kemoceng (Jawa: sulak) termasuk perangkat semi-wajib. Jangan buat body (merusak cat), tapi gunakan untuk kaca sebelah luar. Kaca yang bersih akan membuat mata jadi lebih tidak gampang lelah karena pendar sinar (dari debu yang menempel di kaca), dan wiper lebih awet. Untuk mobil yang sering dipakai keluar kota, ini pusaka wajib—mobil boleh dekil, tapi wiper dan kaca (utamanya kaca depan) harus tetap bersih dari butiran kerikil dll, atau kaca bisa kena baret (kalau wiper dijalankan).

Jadi baiknya sediakan kemoceng kecil di mobil, khusus untuk kendaraan, bukan yang lain. Jangan lupa setiap habis pakai dikebut-kebutkan, agar kita tidak justru memelihara debu di dalam mobil.

ooOoo

–NgM–mangap

Jkt–Smg ≠ Smg–Jkt

0

Fakta: bawa kendaraan di jalur Pantura dari Jakarta ke Semarang tidak sama dengan dari Semarang ke Jakarta—meski jalan rayanya itu-itu juga. Lho? Ini sebabnya: jalan tol Jakarta-Cikampek (± 70 km) dan ruas Cikampek-Lohbener (± 100 km, dulu biasa dijuluki para supir sebagai ‘jalur tengkorak‘). Di dua ruas itu sering macet tapi orang suka ngebut(!), rawan kecelakaan, dan suka ada perbaikan jalan (ruas yang kedua). Kalau dari Jakarta, kita melintasinya saat kondisi masih bugar. Tapi kalau dari Semarang, dua medan berat itu kita hadapi saat fisk-mental sudah letih dari perjalanan jauh. Ini lebih berbahaya(!).

Jadi buat pembaca yang sering/mau single-an bawa mobil bolak-balik antara dua kota itu, jangan lupa, lebih capek Smg-Jkt daripada sebaliknya. Jadi butuh kesiapan mental-fisik yang lebih prima juga, OK?

ooOoo

–NgM–mangap