Ayam bumbu kuning

5

Tau istilah ayam bumbu kuning, kan? Itu lho, ayam lezat siap goreng (sudah dibumbu macam-macam, termasuk kunyit) yang mudah ditemui di pasar tradisional dan sebagian supermarket/pasar swalayan (di Jakarta dan sekitarnya, banyak juga pedagang kelilingnya).

Trus, diapain? Ya digoreng, lah! Cuma minyak bekasnya (jelantah) jangan dibuang, tapi dipakai untuk sesi makan berikutnya: buat bikin nasi goreng—kalau perlu ampas bumbu ayamnya ditambahkan pula sebagai aksesori. Dan nasgor ala dapur rumah sendiri itu akan semakin membuat kita merem-melek.

ooOoo

–NgM–mangap

CD siap buang

0

Suka beri baju/celana bekas yang masih layak pakai ke orang? Amal, itu. Tapi tak lazim mewariskan ‘daleman’, bukan? Daripada langsung masuk sampah, benda ini bisa kita manfaatkan 1x lagi. Trik ini sangat cocok untuk mahasiswa (di mana irit adalah ‘sakral’) yang ngontrak/punya dapur sendiri.

Misalnya singlet atau CD (celana dalam)—terutama yang bahannya berdaya serap tinggi. Setelah pencucian terakhir (tidak habis pakai), gunakan saja untuk mengelap minyak atau jelaga yang biasa nempel di dinding [keramik] dapur dekat kompor (penggorengan). Lalu baru masuk sampah (kali ini tidak perlu cuci). Percayalah, cara ini jauh lebih efektif daripada menggunakan koran bekas, dan dari segi efisiensi juga lebih cerdas daripada memakai gombal yang setelah itu harus kita cuci kembali.

Agak ekstrim? Heh..heh.. Paman jago tutup mulut kok, biar ini jadi rahasia kita saja, ok? Orang toh tak perlu tahu kalau dinding dapur kita nan bersih dan kesat itu hasil usapan pakaian dalam. Ssst..! 😎

ooOoo

–NgM–mangap

Telur – besar atau kecil?

6

Dulu waktu Paman Hantu masih bocah dan tinggal di Salatiga (sebuah kota kecil di lereng gunung Merbabu), keluarga kami punya jadwal tetap soal telur [ayam negeri]: saat lebaran untuk bikin kue, dan setiap Minggu pagi saat ibu membuat nasi goreng yang demikian ditunggu-tunggu (sebutir telur didadar dan diiris kecil-kecil untuk enam orang—sungguh, dadar buatan ibu yang terlezat di dunia). Jelas, telur yang terlalu kecil bisa mengacaukan resep (kue) atau membuat sedih para anak (dadar).

Tapi saat kemudian tinggal di kontrakan dan telur hanya untuk dimakan sendiri (khas orang rantau atau ala mahasiswa), Paman justru melakukan yang sebaliknya: kalau beli telur selalu pilih yang kecil. Bukan apa-apa, jika telur ukuran standar/besar, setengah kilo paling hanya akan dapat delapan butir (kadang bahkan cuma tujuh). Jika ukuran keci? Bisa sembilan kali ceplok atau rebus bareng mie instan.

ooOoo

–NgM–mangap